Sabtu, 15 Maret 2008

Mar 11, 2008 at 11:21 PM
Srikandi Demokrasi Indonesia Menyoal Kenaikan Sembako
Jakarta, PPPI --- Tiga tahun kita sudah menjadi saksi atas kebijakan publik yang berujung pada kemiskinan. Hari demi hari berlalu, beban perempuan semakin tak terkatakan. Diskursus dan analisis terhadap berbagai persoalan publik yang menggema di media electronik maupun digital, tak menggoyahkan sikap kepala batu penguasa, untuk berubah, maupun pengendalian kenaikan harga harga, atau solusi yang berpihak kepada kesejahteran.Meski kami bukanlah siapa-siapa, paling tidak pernah kami ingatkan untuk tidak terseret pada teori neo liberal yang melulu terpengaruh terhadap panasnya perekonomian dunia barat, seakan tidak ada sesenpun revenue terhadap energi kita. Padahal sejarah menggoreskan keindahan persada Indonesia, pertambangan, minyak mentah, batubara, kelapa sawit, dan tanah subur yang jika dikelola dengan tidak setengah hati akan memberikan kemaslahatan bagi bangsa dan negara, itu kata founding father yang visioner merumuskan dengan tepat pasal 27, 28, 31, 33, dan 34 UUD Negara Republik Indonesia th 1945.

Sayang sekali orang orang pintar yang bertebaran dilingkungan kekuasaan seakan tidak lagi mendengar kata hati dan berbuat sesuai dengan kejujuran intelektualnya itu, maka buat kami tidak cukup mengelus dada atau bahkan menangis mendengarkan keluh kesah para ibu rumah tangga dan perempuan Indonesia atas kemiskinan yang mendera kehidupan mereka hari demi hari. Secara moral kami sudah berteriak sejak awal tidak setuju terhadap kebijakan mencabut subsidi termasuk subsidi BBM seperti mimpi buruk yang tak berkesudahan hingga hari ini,Untuk itu kami Srikandi Demokrasi Indonesia bermaksud merayakan ulang tahun kami dengan sederhana sembari menyoal kenaikan harga sembako dan minimnya kesehatan rakyat terbukti banyaknya kasus busung lapar diberbagai tempat hingga kematian seorang ibu yang sedang dalam keadaan hamil 7 bulan di Sulawesi Selatan.Acara tersebut akan kami laksanakan bersama rakyat , aparat polisi dan rekan wartawan pada sabtu dengan di iringi rintik-rintik hujan akan tetapi srikandi demokrasi ini tidak pantang menyerah untuk membela hak kewajiban perempuan untuk menurunkan harga bahan pokok,karena tingkat daya beli masyarakat semakin rendah. Ita kordinator srikandi yang gigih berjuang untuk kepentingan ibu ibu rumah tangga .Sementara itu ketua umum Partai Pengusaha dan Pekerja Indonesia mengatakan Daniel Hutapea Mengatakan bahwa Partai Partai Besar sekarang bungkam dengan semakin rendahnya daya beli masyarakat,dan naiknya harga harga bahan pokok,menurutnya dengan naiknya bahan bahan pokok yang sudah sulit seperti sekarang ini,seharusnya pemerintah cepat tanggap jangan diam saja, kata Daniel.Dengan turunnya srikandi patut dihargai oleh semua pihak dan harus di dengarkan apa kata mereka. (syarief)

Tidak ada komentar: